Menu
header photo

PT.EQUITYWORLD FUTURES

SEMARANG

Blog Search

Comments

There are currently no blog comments.

PT. EQUITYWORLD FUTURES Ideologi Lingkungan dan Worldview: Petani Rugi Dicemari Tambang Batu Bara

PT. EQUITYWORLD FUTURES Lingkungan adalah tanggung jawab semua manusia. Namun sekarang muncul sebuah permasalahan lingkungan. Permasalahan ini muncul karena muncuulnya pabrik-pabrik besar dan cepatnya arus pembangunan yang diiringi dengan lajunya pertumbuhan penduduk. Permasalahan ini akan berdampak kepada penggundulan lahan, pencemaran, dan juga eksploitasi berlebih. Permasalahan ini bisa sangat mengganggu jika tidak ditangani.

Equity World 
Menurut Eder dalam Burh, nilai alam dan ekologi saat ini menjadi perhatian yang non-controversial (Eder, 1996) dan akibatnya gerakan sosial mengenai konservasi lingkungan telah menjadi ideologi yang dominan yang ditermukan di berbagai lapisan masyarakat. Saat ini banyak yang peduli tentang lingkungan namun banyak juga yang tidak peduli. Mereka yang tidak peduli hanya berfikir bangaimana mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Hawken (1998) dalam Buruh mengatakan jika semua perusahaan di dunia ini mengadopsi praktik lingkungan dan sosial dari perusahaan yang terbaik maka dunia ini akan tetap bergerak menuju degradasi lingkungan dan kolaps.

Ada banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan cara yang sama dalam produksinya yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Hal ini akan merugikan banyak orang disekitar wilayah produksi yang rusak ini. VOA Indonesia melaporkan bahwa tambang batubara di Samarinda, Kalimantan Timur mencakup lebih dari 70 persen wilayah Samarinda, hal ini memaksa desa-desa dan sekolah untuk menjauhi longsoran lumpur yang beracun dan sumber-sumber air yang tercemar. Kapal-kapal berisi gunungan batu bara juga berlalu di atas Sungai Mahakam yang tercemar setiap menitnya.

Burh melakukan analisis terhadap perusahaan Noranda untuk mengeksplorasi perubahan wacana lingkungan dan retorika dan pandangan dunia mengenai satu perusahaan. Burh bersama dengan rekannya memilih Noranda karena berberapa alasan. Yang pertama, Noranda adalah salah satu perusahaan yang terkemuka di Kanada dan karenanya memiliki sejumlah masalah lingkungan. 

Kedua, Noranda merupakan salah satu perusahaan yang pertama di Kanada yang mulai memproduksi laporan lingkungan. Ketiga, Noranda telah memenangkan berbagai penghargaan pelaporan untuk laporan tahunan dan laporan pembangunan lingkungan lestari. Laporan Noranda dari tahun 1990 sampai 1994 dikenal sebagai laporan lingkungan. Laporan tahun 1995 sampai tahun 1998 menjadi laporan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan kerja. Sejak tahun 1999 dan seterusnya, Noranda menyampaikan laporannya sebagai pembangunan berkelanjutan.Equity World Buruh mengatakan bahwa tidak mengherankan, sepanjang laporan, sifat di dalam dan dari dirinya sendiri bukanlah pemangku kepentingan namun merupakan sumber daya di bawah pengelolaan yang bijak. Ukuran akhir sebuah kesuksesan dilihat sebagai pertanggungjawaban bisnis dan sosial, bukan pelestarian alam. Noranda digambarkan sebagai kapitalis pengembang yang berkelanjutan dengan kesadaran sosial tinggi, perusahaan yang bertanggung jawab, bertanggung jawab secara fiskal dan berwawasan lingkungan namun pragmatis, realistis dan kadang-kadang inovatif.

Tambang Batu Bara Merampas Hak Masyarakat

Batu bara merupakan hasil alam yang melimpah di Kalimantan. Khusunya di Kalimantan Timur sangat banyak perusahaan yang menambang batu bara disana. Bontang, Samarinda, Kutai Timur, Paser, Penajam, Bengalon dan masih banyak lagi Kota ataupun Kabupaten yang menjadi tempat tambang batu bara. Investor-investor asing berdatangan untuk membuka atau menanamkan modal disana.

Tanpa disadari tambang batu bara ini ternyata merugikan banyak pihak. Kerusakan hutan disekitar kota ataupun desa untuk membuka jalan bagi tambang telah menghancurkan penahan alami untuk melawan banjir, pencemaran air, dan salah satu yang paling dirugikan adalah petani. Seperti yang dilansir oleh Tempo Samparinda, hasil bertani dan budidaya ikan sejak tahun 2000, Burhanuddin, 58 tahun, warga Makroman, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, mampu meraup keuntungan hingga Rp150 juta per tahun. Setelah perusahaan batu bara masuk melakukan eksploitasi di Makroman, penghasilan Burhanuddin menurun drastis hingga Rp20 juta per tahun sejak 2008.

Periset dari Jatam Kalimantan Timur, I Ketut Bagayasa, menjelaskan bahwa hal itu benar akibat kehadiran eksploitasi tambang batu bara. Dia menjelaskan sejak tahun 2008 perusahaan batu bara mulai mengeringi bendungan dan air tanah. Sejak saat itu, Pak Burhanuddin terpaksa menggunakan air lubang tambang untuk kolam-kolam ikannya.

Hasil riset yang dilakukan oleh Jatam Kalimantan Timur mengungkapkan bahwa aktivitas perusahaan tambang batu bara di Makroman juga mengalirii air melalui saluran irigasi sampai pada sawah dan peternakan ikan. Air yang mengalir kebanyakan adalah air yang tercemar limbah pabrik yang dapat berbahaya bagi produksi pangan pada sistem-sistem pertanian. Para petani pun membenarkan hal tersebut.

Melihat dari satu kasus ini bahwa sebenarnya ada hal besar yang diabaikan oleh perusahaan tambang batu bara. Kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar wilayah tambang batu bara rusak. Kerugian besar dirasakan oleh para petani dan para pembudidaya ikan. Tercemarnya air menjadi masalah yang mendalam pada kasus ini. 

Padi yang mereka konsumsi nantinya juga menjadi tercemar dan hal ini akan berbahaya bagi kesehatan mereka. Melihat dari berita yang dikeluarkan oleh VOA Indonesia, para warga di sekitar tambang tidak mencarii kompensasi, mereka hanya meminta pemerintah mewajibkan sebuah perusahaan tambang batu bara dekat rumah mereka untuk membersihkan pencemaran air dan menyediakan layanan kesehatan untuk mereka. Perusahaan tambang batu bara sebaiknya memperhatikan lingkungan sekitar, kesehatan masyarakat sekitar, bukan hanya memperhatikan produksii semata.

Go Back

Comment